Sekprov Sulbar Sebut Transformasi Pemdi Sejalan Dengan Misi Panca Daya

GlobalSulbar.com, Mamuju – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Junda Maulana secara resmi membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Penyusunan dan Pengembangan Arsitektur Sistem Pemerintahan Digital (Pemdi), di Ruang Teather Kantor Gubernur, Rabu 1 Juli 2026.

Rakor ini menjadi langkah awal Pemprov Sulbar mempercepat transformasi pemerintahan digital yang terpadu, sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 dan Perpres Nomor 132 Tahun 2022.

Transformasi Pemdi di Sulbar mencakup penginputan data pada Sistem Informasi Arsitektur (SIA) Pemdi. Sistem ini berfungsi mengintegrasikan tata kelola pemerintahan dan layanan publik secara nasional agar lebih terstruktur dan terukur.

Melalui SIA PEMDI, seluruh perangkat daerah diharapkan memiliki peta digitalisasi yang selaras dengan arsitektur nasional, sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri.

Junda Maulana, menekankan urgensi percepatan penyusunan dan pengembangan Pemdi. Pemprov Sulbar ditargetkan menyelesaikan tahap awal arsitektur ini pada Agustus 2026.

“Kita ditargetkan bulan Agustus harus selesai. Ini penting sekali mengingat yang pertama ini arahan pusat,” ujar Junda.

Ia menyebut transformasi Pemdi sejalan dengan Misi Panca Daya, khususnya poin memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik dan akuntabel serta mewujudkan pelayanan dasar yang berkualitas.

“Kalau kita mau memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik dan akuntabel, tentu basic-nya adalah pelayanan yang sudah digital. Kalau kita masih manualistik, itu berarti belum menerapkan sistem tata kelola yang baik,” kata Junda.

Menurut Junda, penerapan digitalisasi melalui rakor Pemdi sangat dibutuhkan untuk mengurangi penginputan manual yang berpotensi bias dan tidak akurat.

“Tentu kalau manual itu masih ada bias. Jadi kita berharap penerapan digitalisasi ini bisa berjalan dengan baik,” tutupnya.

Di akhir arahannya, Junda Maulana menegaskan transformasi digital bukan soal siapa yang paling hebat, tetapi soal keterlibatan semua pihak.

“Transformasi tidak bicara soal siapa yang paling hebat. Transformasi bicara soal siapa yang mau terlibat. Karena transformasi bukan hasil satu tangan, tapi ribuan niat yang jalan beriringan,” tegasnya.

Pos terkait