GlobalSulbar.com, Majene – Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat (Sekprov Sulbar), Junda Maulana menghadiri Sidang Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka pengukuhan Guru Besar Tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, Rabu 29 April 2026.
Dalam sambutannya, Junda Maulana menyebut, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.
Hingga kini, kata dia, jalan provinsi yang tergolong layak baru sekitar 49 persen.
Menurutnya, kondisi ini masih menjadi kendala serius, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil.
“Masih ada kejadian ibu melahirkan di jalan karena akses yang sulit. Ini menyangkut hak dasar masyarakat yang harus kita jawab bersama,” ujarnya.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Sulbar yang berada di atas rata-rata nasional, sekitar 5,35 persen, dinilai belum sepenuhnya inklusif. Hal ini terlihat dari angka kemiskinan yang masih berada di kisaran 10,1 persen, lebih tinggi dari nasional.
Meski demikian, Junda menilai ada progres signifikan jika dibandingkan dengan kondisi sebelum Sulbar terbentuk, di mana angka kemiskinan saat itu mencapai 19 persen.
Di sektor lain, persoalan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga menjadi perhatian.
Ia pun menyoroti angka kematian ibu dan bayi serta kasus gizi buruk yang masih tinggi.
Selain itu, lanjutnya, prevalensi stunting yang saat ini berada di angka 35 persen.
“Artinya, dari 100 anak yang lahir, ada sekitar 35 yang berpotensi stunting. Ini tentu menjadi tantangan besar kita menuju Indonesia Emas,” jelasnya.
Dirinya pun menyinggung persoalan sosial dan budaya, termasuk potensi konflik horizontal serta dinamika politik yang perlu dikelola dengan baik agar tidak menghambat pembangunan.
Bagi Junda, kompleksitas persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan cara instan. Dibutuhkan pendekatan yang komprehensif, berbasis data, dan didukung oleh kajian ilmiah.
Olehnya, Junda menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dan para akademisi dalam membantu pemerintah daerah merumuskan kebijakan yang tepat.
“Kami berharap para ilmuwan dan perguruan tinggi bisa aktif memberikan rekomendasi. Baik diminta maupun tidak, kontribusi keilmuan sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan daerah,” katanya.
Pada kesempatan itu juga, Junda mengungkapkan kebanggaannya terhadap capaian sumber daya manusia Sulbar. Saat ini, tercatat ada sekitar 82 profesor asal Sulbar yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
“Ini potensi besar. Kami membuka ruang kerja sama seluas-luasnya, khususnya dalam penelitian untuk mendorong kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.
(Kalam)
***






