Keterbatasan Sarana dan Prasarana Buat Nelayan Mandar Bermigrasi ke Berbagai Kota

GlobalSulbar.com, Mamuju – Nelayan Mandar telah lama dikenal sebagai pelaut ulung dengan keterampilan bahari yang diwariskan secara turun-temurun.

Keahlian mereka dalam menangkap ikan, khususnya tuna dengan metode pancing atau hand line, menjadikan mereka aset berharga dalam industri perikanan nasional.

Namun, keterbatasan sarana dan prasarana pelabuhan di Sulawesi Barat membuat mereka harus bermigrasi ke berbagai kota perikanan di wilayah tengah dan timur Indonesia untuk mencari peruntungan yang lebih baik.

Saat ini, nelayan Mandar tersebar di sedikitnya 10 kota perikanan utama seperti Larantuka, Lombok, Kendari, Bone, Makassar, Pare-pare Lero, Gorontalo, Donggala, Bontang, Balikpapan dan wilayah lain nya. Hasil wawancara dgn para pelaku usaha perikanan di daerah Kabupaten Polman dan Majene.

Dalam setahun, paling sedikit 30 hingga 40 kapal nelayan bermigrasi ke masing-masing kota ini, sehingga secara total terdapat sekitar 400 kapal nelayan Mandar yang mencari nafkah di luar Sulbar.

Di setiap daerah tujuan, para nelayan bekerja di bawah naungan bos ikan, yang jumlahnya bisa mencapai 5 hingga 10 orang per daerah.

Satu bos ikan biasanya mempekerjakan 3 hingga 5 kapal nelayan, dengan hasil tangkapan yang sebagian besar disuplai ke perusahaan perikanan yang mengekspor ikan tuna ke pasar internasional.

Hal ini sejalan dengan hasil reportase DARILAUT.ID melaporkan bahwa Ratusan Nelayan Mandar Berpangkalan di Kwandang, Gorontalo (Redaksi  10 September 2018

Untuk diketahui, saat ini Ratusan nelayan asal Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, berpangkalan di Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

Nelayan ini melakukan kegiatan penangkapan ikan cakalang dan tuna di Laut Sulawesi.

Isteri nelayan asal Mandar, Ona mengatakan, terdapat 70 kapal ikan asal Mandar di Kwandang yang beroperasi di Laut Sulawesi.

“Di setiap kapal ikan terdapat 7 sampai 14 nelayan,” kata Ona, Sabtu (8/9).

Laut Sulawesi berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 716. Di WPP 716, nelayan asal Mandar ini memancing ikan dengan kapal berukuran dibawah 5 GT (gross tonnage, tonase kotor).
Di setiap kapal ikan tersebut, terdapat perahu untuk memancing.

Bila sudah berada di lokasi yang ada ikan, seperti cakalang, nelayan menurunkan perahu, kemudian memancing.

Berdasarkan data di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kwandang, kontribusi ikan cakalang yang masuk didominasi kapal ikan dibawah 5 GT. Ikan cakalang termasuk mendominasi hasil tangkapan yang masuk di PPN Kwandang.

Seperti data harian Sabtu tanggal (8/9), sebanyak 59 kapal ikan ukuran dibawah 5 GT yang masuk. Ikan cakalang yang didaratkan sebanyak 3000 kilogram.

Pada (7/9) kapal ikan dibawah 5 GT yang masuk sebanyak 60. Ikan cakalang yang didaratkan sebanyak 9.300 kilogram. Pada (6/9) sebanyak 52 kapal ikan dibawah 5 GT yang masuk. Hasil tangkapan ikan cakalang sebanyak 5.675 kilogram.

Minimnya infrastruktur pelabuhan di Sulbar menjadi salah satu penyebab utama belum adanya perusahaan perikanan besar yang dapat membeli ikan dengan harga tinggi langsung dari nelayan lokal.

Padahal, jika didukung dengan fasilitas yang memadai, Sulbar memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perikanan yang dapat memasok kebutuhan ikan, termasuk untuk mendukung suplai pangan ke Ibu Kota Nusantara (IKN).

Oleh karena itu, perhatian terhadap pengembangan infrastruktur perikanan di Sulbar sangat diperlukan, baik dalam bentuk pembangunan pelabuhan perikanan, peningkatan fasilitas rantai dingin, maupun dukungan kebijakan yang mendorong investasi sektor perikanan.

Dengan begitu, nelayan Mandar tidak perlu lagi bermigrasi jauh untuk meningkatkan taraf hidupnya, melainkan dapat berkembang di daerahnya sendiri dan berkontribusi lebih besar bagi ekonomi lokal serta ketahanan pangan nasional.

Pos terkait