Pimpin HLM TPID, Gubernur Sulbar : Ekonomi Sulbar Kita Rancang Dalam Dua Arus Utama

GlobalSulbar.com, Mamuju – Gubernur Sulbar, Suhardi Duka (SDK) memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tingkat Provinsi yang mengusung tema “Kolaborasi dan Sinergi TPID Sulbar Menjaga Stabilitas Harga pada Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026”, Selasa, 10 Maret 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh perwakilan dari enam Pemerintah kabupaten se-Sulbar.

Dalam sambutannya, Gubernur Sulbar, Suhardi Duka mengatakan, pengendalian inflasi menjadi perhatian penting pemerintah karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi daerah.

Menurutnya, arah pembangunan ekonomi Sulbar dirancang melalui dua arus utama, yakni memperkuat sektor unggulan daerah sekaligus mengembangkan industri pengolahan dan UMKM.

“Ekonomi Sulbar kita rancang dalam dua arus utama. Pertama, memperkuat sektor pertanian, perkebunan dan perikanan yang menyumbang sekitar 46 persen terhadap PDRB”,

“Kedua, mengombinasikannya dengan industri pengolahan dan UMKM agar nilai tambah produk meningkat,” terangnya

Ia menjelaskan, selama ini sebagian besar komoditas daerah seperti CPO, biji kakao dan jagung masih dijual dalam bentuk bahan mentah.

Melalui pengembangan industri pengolahan, diharapkan nilai ekonomi produk tersebut bisa meningkat dan memberi dampak langsung bagi masyarakat.

Meski, lanjut SDK, industri pengolahan berskala besar belum sepenuhnya berkembang, pemerintah mendorong keterlibatan UMKM agar pertumbuhan ekonomi daerah benar-benar bertumpu pada ekonomi rakyat.

“Kita ingin ekonomi Sulbar benar-benar menjadi ekonomi rakyat. Bukan hanya dikendalikan investasi besar, meskipun kita tetap berharap investasi besar juga masuk ke daerah ini,” jelasnya.

SDK menuturkan, hampir semua negara berupaya keras mengendalikan inflasi karena tingginya inflasi dapat melemahkan nilai tukar uang dan mengganggu stabilitas ekonomi.

“Runtuhnya satu negara bisa dimulai dari inflasi yang tinggi. Inflasi sangat mempengaruhi daya beli masyarakat. Yang tadinya mampu membeli 10, karena inflasi hanya mampu membeli 5,” ungkapnya

Dirinya pun menambahkan, inflasi nasional pada dasarnya merupakan akumulasi dari inflasi yang terjadi di berbagai daerah. Oleh karena itu, pengendalian inflasi di tingkat daerah menjadi sangat penting.

Pada kesempatan itu juga, SDK memaparkan perkembangan ekonomi Sulbar dalam dua tahun terakhir yang menunjukkan tren positif. Pada tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Sulbar tercatat sebesar 4,7 persen, masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,3 persen.

“Artinya saat itu kita belum berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan bisa dikatakan menjadi beban karena pertumbuhan kita lebih rendah dari nasional,” ujarnya.

Namun, kata SDK, pada 2025, ekonomi Sulbar berhasil tumbuh hingga 5,36 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen.

“Ini menunjukkan kita sudah mulai berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun kontribusinya masih kecil,” tutupnya

 

(Kalam)

***

Pos terkait